Stunting bukan disebabkan karena keluarga miskin. Sebagian besar akibat selera makan tiba-tiba menurun. Berkenaan dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) bekerjasama dengan Kelurahan Kauman Kidul dan Mahasiswa KKN UKSW menyelenggarakan Sosialisasi Menuju Keluarga Zero Stunting di Aula Kelurahan Kauman Kidul pada Hari Selasa (1/11). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DP3APPKB Sumarno dan Lurah Kauman Kidul Herry Ponco. Adapun peserta yang mengikuti sosialisasi tersebut terdiri dari tokoh masyarakat dan keluarga risiko stunting. Sebanyak 18 orang keluarga risiko stunting di Kelurahan Kauman Kidul meminta agar dapat difasilitasi untuk menghadirkan ahli gizi. “Kami mohon difasilitasi menghadirkan ahli gizi agar kami dapat berkonsultasi. Syukur kami juga dilatih keterampilan memasak untuk anak ya Pak” pinta Ibu Sinta, orang tua anak risiko stunting pada acara tersebut. Selain sosialisasi 18 keluarga risiko stunting juga menerima paket makanan tambahan dari kecamatan Sidorejo. Dalam pengarahannya, Sumarno menjelaskan bahwa 90 persen keluarga risiko stunting di Kauman Kidul disebabkan literasi. Pemahaman terhadap pola asuh anak masih perlu ditingkatkan. Sedangkan yang disebabkan faktor ekonomi lemah hanya 10 persen. Maka dari itu beliau menyampaikan upaya tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah memberi edukasi dan pelatihan keterampilan memasak kepada keluarga risiko stunting. Hal ini untuk mendukung target zero stunting tahun 2024 di Kota Salatiga. “Kami akan mengundang ahli Gizi dan memberi pelatihan memasak. Sedangkan kasus stunting dari keluarga miskin perlu intervensi spesifik,” jelas Sumarno.
No responses yet