







Pj. Wali Kota Salatiga, Drs. Sinoeng N. Rachmadi, M.M., menyampaikan “Sekolah Ramah Anak menurut saya, diskusi itu sudah final, sudah selesai, sama halnya dengan kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka itu diskusi dengan para pendidik, para guru, dengan para murid, it’s oke, yang bahaya itu, yang belum tuntas itu, yang belum selesai itu, orang tua ndak paham soal itu dan anak merasa di-bully di rumah. Begitu Bu Gurunya, Pak Gurunya, siswanya di sekolah, ‘oh ndak papa nak nilai matematikamu 6 ndak papa, tapi kemarin kamu mewakili menang FL2SN kemarin, tapi kemarin kamu juara MTQ, kamu mewakili sekolah ndak papa’. Nanti wali kelasnya, ‘oh bagus kamu nak’. Tapi orang tuanya, karena secara tidak langsung nanti orang tua saling mengomentari anaknya masing-masing. ‘Mbak yu anakmu Bahasa Inggrise pira, oh ya anakku ya 8, lha njenengan, 6, walah ya pinter anakku no’. Padahal yang Bahasa Inggrisnya 6 kemarin mewakili sekolah, kecamatan, kota, di level Jawa Tengah, itu dilupakan. Ini yang bahaya.”
Orang nomor satu di Salatiga ini menambahkan dan mengingatkan kepada pihak sekolah untuk menjaga komunikasi dan koordinasi dengan wali murid, serta tidak hanya mengundang wali murid saat pembagian raport atau ketika murid bermasalah saja, tetapi juga ketika sekolah mengadakan kegiatan atau event seperti pameran kreativitas dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan tersebut Pj. Wali Kota memberikan pengarahan dan motivasi yang kemudian dilanjutkan dengan materi dari narasumber yaitu Kepala Seksi Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Ninuk Sri Rejeki, S.Pd dengan materi Hak Anak Atas Pendidikan dan Ahmad Syakur, S.H., M.H., dari UNICEF Kota Semarang dengan materi Standarisasi SRA (Satuan Pendidik Ramah Anak).
















Users Today : 80
Users Yesterday : 18
Total Users : 363631
Views Today : 140
Total views : 1227246
Who's Online : 8
No responses yet