








Ketua MUI Salatiga, Dr. Agus Ahmad Suaidi, Lc., M.A dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan latar belakang dilaksanakannya seminar tersebut. “Sebelumnya izinkan saya menyampaikan ucapan selamat datang ‘ahlan wa sahlan’ dan mengucapkan terimakasih yang tak terhingga terutama pembicara seminar pada hari ini. Mengapa kita perlu memahami Al Quran dan sunnah dalam konteks keindonesiaan, karena kita harus mengetahui masih terjadi ‘gap’ atau kesenjangan antara normatifitas dan historisitas, antara apa yang disampaikan dan apa yang terjadi terlebih terkait dengan isu-isu, mengenai hukum, kewargaan, dan superioritas Islam dan non muslim”. Sehingga, harapan dilaksanakan seminar tersebut dapat menggali imu dari para ahli dan menciptakan perdamaian antar umat beragama.
Meskipun dari Jakarta, Pj. Wali Kota Salatiga, Drs. Sinoeng N Rachmadi, M.M menyempatkan waktu secara daring memberikan Keynote Speaker. “Saya mohon maaf, pada kesempatan ini tidak bisa datang secara langsung ke lokasi karena sedang ada tugas di Jakarta. Iya, dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada MUI Kota Salatiga beserta seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan luar biasa ini, dengan menghadirkan narasumber yang sama-sama kita tak ta’dzimi. Dalam hal ini bukan maksud saya untuk menggurui, akan tetapi dalam tema yang diambil yakni terkait memahami Al Quran dan Sunnah dalam konteks keindonesiaan ini, maksud saya dalam transformasi perilaku kita membaca Quran dan Sunnah jangan hanya sebatas kepada membaca secara verbal atau tilawah, tetapi juga ‘al fahmu’ atau memahami, karena ini menjadi sebuah korelasi yang sangat signifikan”. Pihaknya juga menekankan, bila menuntut ilmu atau berguru, jangan hanya faktual tetapi juga aktual. Selain itu disampaikan pula makna yang terkandung dalam Surah At-Taghabun ayat 15.
Setelah ceremoni pembukaan, dilanjutkan pengajian dan sesi tanya jawab oleh peserta yang hadir. Kemudian sesi terakhir ditutup dengan closing statemen dari Dr. K.H Ahsin Sakho Muhammad, M.A. “Hendaklah kita membuat rumusan-rumusan atau alternatif yang berimbang agar warga di Indonesia menjadi orang yang moderat. Tidak boleh keterlaluan, Sesuatu yang keterlaluan, berlebihan itu tidak baik dalilnya banyak”. Dilanjutkan Tilawatul Qur’an dari Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar yang mengundang decak kagum peserta yang hadir.
















Users Today : 211
Users Yesterday : 18
Total Users : 363762
Views Today : 380
Total views : 1227486
Who's Online : 2
No responses yet