SMP Negeri 10 Salatiga Kenalkan Salatiga ke India dan Malaysia

Salatiga, 13 November 2020. Wedang ronde, enting-enting gepuk, singkong keju, rolade, dan gula kacang membuat suasana Global Learning Connection (GLC) menjadi meriah, saat satu demi satu siswa-siswa dari India dan Malaysia mencoba menjawab pertanyaan terkait bahan-bahan pembuat makanan tersebut.

Makanan khas Salatiga itu ditampilkan dalam presentasi yang dilakukan siswa dan guru SMP Negeri 10 Salatiga. Tentu tidak hanya makanannya saja, keindahan Kota Salatiga pun tampil dalam sesi interaksi peserta GLC.  Komentar-komentar positif disampaikan peserta GLC, bahkan Ms. Khurana menyampaikan ingin ke Salatiga bersama dengan murid-muridnya, demikian pula Chegu Rahim dan Ms. Jane Shakila yang berdoa agar Corona segera berlalu agar dapat berkunjung.

SMP Negeri 10 Salatiga mengenalkan Salatiga ke India dan Malaysia pada kegiatan Microsoft Global Learning Connection secara daring, sebuah acara bergengsi tahunan yang pada tahun 2020 ini diikuti sekitar 2500 siswa dan 250 guru di Indonesia serta terhubung dengan berbagai negara di dunia.

Sebanyak 50 siswa SMP Negeri 10 Salatiga dengan didampingi kepala sekolah dan 4 guru mengikuti kegiatan ini pada tanggal 10-11 November 2020. Sesi pertama, Selasa, 10 November pukul 13.00 – 14.00 bersama Mr. Lucky Gani (Director of Marketing & Operations Microsoft Indonesia), SMKN 2 Trenggalek, dan SMAN 1 Pati. Sesi kedua, Selasa, 10 November pukul 16.30 – 17.30  bersama DAV Public School, New Delhi, India. Sesi ketiga, Rabu, 10 November pukul 13.00 – 15.00  bersama Ms. Hendrika Gaudens Refwalu (Marketing Lead Microsoft Indonesia), MTsN 2 Karanganyar, SMPN 2 Gorontalo, dan Kuhara High School Malaysia.

Yati Kurniawati, M.Pd., Kepala SMP Negeri 10 Salatiga yang merupakan MIEE (Microsoft Innovative Education Expert) 2020-2021 mengungkapkan bahwa sangat bersyukur SMP Negeri 10 Salatiga bisa terpilih mengikuti kegiatan ini. Diharapkan dengan kegiatan ini SMPN 10 Salatiga bisa Go Internasional dan warga sekolah bisa memiliki wawasan global tentang beragam budaya, nilai, dan karakter di era digital. Yati juga menyampaikan bahwa siswa sangat termotivasi mengikuti kegiatan ini. Paparan “Smart Students in The New Normal”, Guidelines To Be Successful In School And Life In This Era yang disampaikan Mr. Lucky Gani dan Ms. Hendrika Gaudens Refwalu menginspirasi siswa untuk bisa sukses. Siswa juga senang mengetahui budaya  dan sains dari paparan DAV Public School, New Delhi, India yang dipandu oleh Ms. Shaifu Kurana dan tentang Mount Kinabalu dan Ambuyat dari siswa Kuhara High School Malaysia yang dipandu Chegu Rahim.

Dewi Indrawati, S.Pd., Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 10 Salatiga menyampaikan bahwa siswa-siswa senang sekali bisa terhubung secara virtual dengan teman-teman di luar negeri. Siswa berpartisipasi secara aktif. Interaksi di hari pertama sangat menginspirasi siswa-siswa, terbukti dengan munculnya keberanian dan kepercayaan diri mereka untuk presentasi di GLC hari berikutnya, 11 November 2020. Beberapa siswa secara percaya diri mencoba menggunakan Bahasa Inggris untuk memperkenalkan diri. Bahkan, salah satu siswa, Vera Valleria memberikan deskripsi singkat mengenai Salatiga menggunakan Bahasa Inggris.

Menurut Dewi, siswa-siswi sangat terkesan dengan budaya dan pendidikan di India dan Malaysia. Salah satu siswa, Ahmad Arif Maulana, mengatakan selama ini bisa dibilang hanya tahu India dari film Bollywood dan dia benar-benar takjub karena siswa-siswa di India ternyata lancar berbahasa Inggris. Begitu pula dengan Sajid Bagus Ramadhany, salah satu peserta dari SMP Negeri 10 Salatiga, yang terkesan karena siswa-siswi di India membuat project science yang bisa dibilang canggih untuk anak seusia mereka, dan percaya diri.

Peserta GLC juga terkesan dengan teman-teman dari Malaysia. Sebagai penggemar Upin dan Ipin, anak-anak tidak sabar menunggu sesi connection dengan sekolah dari negara tempat tinggal Upin dan Ipin. Dan lagi-lagi, anak-anak merasa takjub karena teman-teman seusia mereka juga percaya diri menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasi karena mereka menduga para siswa akan menggunakan bahasa Melayu, yang sering mereka dengar saat menonton acara animasi tersebut. Anak-anak juga merasa bahwa mereka tidak sendirian, ketika mengetahui bahwa teman-teman di Malaysia juga belajar dari rumah di masa pandemi ini. Jessy Vicha Febriana senang sekali bisa bertemu secara virtual dengan teman-teman di Malaysia. Pengalaman ini membuat Jessy lebih mengenal dunia luar dan mendapat pengalaman baru. Sajid Bagus Ramadhany berpendapat bahwa event ini sangat menyenangkan. Beberapa siswa bahkan sudah menanyakan, kapan kita akan ada event seperti ini lagi dan sangat ingin berpartisipasi lagi.

Sharing is caring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *